Saya beserta teman-teman dari PSY’13
dan teman-teman reguler sore, berencana liburan ke Pelabuhan Ratu dan Pantai
Sawarna, kami semua belum pernah kesana, Kami mendapatkan informasi dari banyak
teman yang bilang kalau Pantai Sawarna itu indah sekali. Pantai Sawarna
terletak di daerah Banten, Jawa Barat.
Sabtu,
11 Januari 2014, kami memutuskan untuk berangkat kesana, tanpa di sangka banyak
sekali yang berminat untuk ikut kesana sekitar 14 orang. Kami berangkat
menggunakan mobil, awalnya kami berencana untuk touring di karena kan cuaca
tidak menentu demi keselamatan bersama, akhirnya kami sepakat menggunakan
mobil.
Seperti
biasanya sabtu kami masuk kuliah, dan setelah jam kuliah selesai kami berencana
berangkat sekitar pukul 15:00 WIB. Di karenakan ada sedikit masalah,
keberangkatan ditunda, dan akhirnya kami berangkat sore hari sekitar pukul
16:30 WIB. Di pertengahan jalan, tepat nya di ujung JL. OTISTA kami ketilang
Polisi (Di karenakan salah jalur), dan akhirnya kami berdamai dengan Polisi,
tapi tetap yaa di mintain uang. hehehehe..
Dari
kejadian itu saya langsung punya pemikiran “ Sepertinya ini alamat buruk untuk
perjalanan selanjutnya”. Tapi kami tetap melanjutkan perjalanan untuk sampai ke
Pantai Sawarna, di dalam mobil kami berdo’a bersama-sama supaya tidak ada lagi
halangan. Kami melintasi kota bogor dan mengambil arah ke kota Sukabumi,
sebelum sampai di kota Sukabumi kami melintasi jalan yang berlika-liku, licin,
dan jalan yang curam, tepatnya di daerah Cikidang.
Kami
sampai di daerah Cikidang pun malam hari dan tidak ada penerangan lampu disana,
hanya penerangan lampu dari mobil saja, Kanan-kiri kami pun Hutan dan Jurang.
Sebenarnya kalau kami melintasi jalan tersebut di pagi atau siang hari akan
terlihat pemandangan yang indah sekali, di karenakan kami melintasi jalanan
tersebut malam hari yang ada hanya rasa takut yang terlintas di pikiran. Hujan
pun turun dan kabut tebal ikut menyelimuti dalam perjalanan kami, rasa takut
pun bertambah. Sempat terlintas di pikiran saya “ untuk berhenti sampai esok
hari, namun di satu sisi terlintas pikiran lain kalau kami berhenti takut
terjadi yang tidak di inginkan karena posisi kami ada di tengah-tengah hutan”,
teman mengemudikan mobil dengan pelan-pelan dan ada salah satu teman yang mabuk
perjalanan, saya paham betul rasanya itu karena jalanan memang sungguh ekstrim,
akhirnya kami menemukan rumah warga disekitar pinggir jalanan tersebut, kami
berhenti sejenak untuk beristirahat dan menghirup udara segar diluar,
dikarenakan masih jauh kami melanjutkan perjalanan kembali, belum lama
melanjutkan perjalanan saya juga merasakan sedikit pusing dan mual , akhirnya
saya berniat untuk tidur, seperti baru memejamkan mata ternyata sudah sampai di
daerah Pelabuhan Ratu.
Kami sepakat berhenti untuk
beristirahat dan menyewa penginapan dipinggir pantai Pelabuhan Ratu,badan sudah
berasa remuk ingin istirahat tetapi malah pada main “ kartu “, sambil bercanda
bersama melepas penat yang ada dan tak terasa waktu menunjukan pukul 04:30 WIB,
mata pun sudah tidak kuat menahan rasa ngantuk, akhirnya kami tidur dan sekitar
pukul 06:00 WIB saya bangun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai
Sawarna, tetapi sebelum menuju kesana saya dan beberapa teman menyempatkan
untuk melihat sebentar Pantai Pelabuhan Ratu, kami hanya dipinggir dan
berfoto-foto. Ombaknya sangat besar, mungkin saat itu air laut sedang pasang.
Menurut kabar berita yang pernah
saya dengar setiap tanggal 06 April para nelayan di Pelabuhan Ratu melakukan
Upacara Laut berupa persembahan kepala kerbau dan sesaji lainnya. Tujuannya
agar mendapat keselamatan,perlindungan, dan hasil tangkapan ikan yang melimpah.
Sebagai upaya melestarikan legenda itu, Samudera Beach Hotel di Pelabuhan Ratu
pun menyediakan kamar khusus bernomor 308 sebagai tempat peristirahatan Sang
Ratu, Mereka melakukan tradisi tersebut untuk meredam kemarahan Sang Ratu Nyi
Roro Kidul. Konon ceritanya banyak nelayan yang secara tidak diduga melihat
sosok putri cantik jelita yang tiba-tiba muncul dari balik gulungan ombak,
benarkah demikian ? Entahlah. Untuk kepentingan pariwisata, legenda Nyi Roro
Kidul tetap di lestarikan, karena merupakan salah satu daya tarik budaya berbau
mistik yang cukup disenangi wisatawan (domestic).
Dikarenakan perjalanan yang masih
jauh saya dan beberapa teman kembali ke penginapan dan ternyata teman-teman
yang lain sudah siap untuk melanjutan perjalanan kembali. Sekitar pukul 07:30
WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Sawarna , jalanan pun tidak
kalah extrim dengan Cikidang, bedanya perjalanan ini di pagi hari sehingga kami
bisa menikmati pemandangan yang indah. Sekitar 3 jam kemudian kami sampai juga
di Pantai Sawarna, dan ternyata untuk menuju ke Pantainya masih jauh itu pun
bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau sepeda motor karena jalanan yang
sempit dan melintasi jembatan goyang yang terbuat dari kayu.
Kami sepakat untuk menggunakan jasa
Ojek sepedah motor. Di karenakan dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar 1
jam, Sesampainya di Pantai Sawarna kami terpukau akan keindahan Pantai
tersebut, Sejauh mata memandang yang ada hanya keindahan, saya berdiri
memandangi semua keindahan alam betapa anugerah yang engkau berikan begitu luar
biasa dan kesombongan yang pernah ada
hilang begitu saja.
Saya ingin berteriak
sekeras-kerasnya agar semua beban dan penat hilang, tetapi saya malu sama
teman-teman. Kami mulai menikmati keindahan yang di berikan Sang Maha Pencipta,
Kami berlari-lari kesana kemari, berfoto-foto ,
bercanda gurau, Saya melihat wajah teman-teman penuh keceriaan, Cuaca
sangat mendukung dan perut mulai lapar karena dari pagi kami belum sarapan,
akhirnya kami menjauh dari pantai tersebut untuk memesan makanan, hampir 1 jam makanan tidak kunjung datang,
mata pun sudah mulai mengantuk tapi perut lapar, entah bagaimana rasanya, saya
juga binggung..?? Hehehe.. Belum lama memejamkan mata akhirnya yang di tunggu
datang juga dalam hati berkata: “Alhamdullilah akhirnya ketemu nasi juga”,
sungguh nikmat makan sambil memandangi Pantai Sawarna.
Setelah selesai makan kami menuju
Pantai Sawarna pasir putih yang lebih indah dari pantai sebelumnya. Disana kami
bermain sepak bola, bermain pasir, berlari-lari seperti anak kecil dan seperti
biasa kami selalu mengabadikan moment yang sangat indah dengan foto-foto
bersama, “ seperti dibawah ini nihh “.
![]() |
| Saat di pantai pasir putih , tak jauh dari pantai sawarna ( 5 ) |
Hari
semakin siang mengingat perjalanan yang sangat jauh, tidak lama kami bergegas
untuk pulang ke Jakarta. Sekitar pukul 13:30 WIB kami sudah rapih dan berjalan
kaki setapak demi setapak, kami meninggalkan Pantai Sawarna. 1 jam kemudian
sesampainya di parkiran mobil disitu ternyata ada sedikit masalah “yaaaa..
kunci mobil di dalam dan terkunci dari luar”, Salah satu teman ada yang
bertanya kepada saya “bagaimana yaa
caranya agar terbuka pintu mobilnya?”, Secara tegas saya menjawabnya “ dengan
menggunakan penggaris besi “ karena memang saya pernah mengalami hal seperti
itu. Akhirnya salah satu teman saya ada yang mencari alat tersebut, sementara
teman yang lain meminta pertolongan oleh warga setempat. Waktu berjalan sampai
pukul 15:30 WIB dan belum bisa terbuka pintu mobilnya, dengan penuh semangat
segala macam cara lain di coba tetapi tidak berhasil juga, saya melihat
wajah-wajah keceriaan berubah menjadi panik. Tetapi mereka mencoba membuka
pintu mobil dengan alat yang saya beritahukan dan pastinya dengan bantuan warga
setempat juga. Salah satu teman ada yang merasa tidak senang hati kalau hanya
menunggu mobil yang terkunci, teman saya berkata “sepertinya pintu mobil ini
susah di buka dan kemungkinan tidak dapat di buka, bagaimana kalau mobil yang
satu ini berangkat duluan..??”. saya dan teman yang lain hanya bisa terdiam,
Saya berpikir “ kami berangkat bersama-sama, masa iya pulang ke Jakarta misah,
dan ternyata yang lain berpikir sama dengan saya”, dan kami memutuskan kalau
kami akan menunggunya sampai pukul 16:00 WIB, jika memang pukul 16:00 WIB belum
terbuka pintu mobilnya dengan terpaksa kami berangkat duluan, dikarenakan hari
Senin banyak yang masuk Kerja. Dari situ saya melihat wajah-wajah semakin
panik.
Keceriaan
yang tadi ada hilang “namanya musibah siapa yang tau..??”, tepat pukul 16:00
WIB kami dengan berat hati bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta duluan,
tetapi keajaiban datang salah satu teman berteriak “ hay teman pintu mobil
terbuka!!! “, kami semua mengucapkan alhamdullilah sambil tersenyum lebar,
wajah-wajah kepanikan mulai hilang dan berubah menjadi ceria, kami bergegas
untuk meninggalkan tempat tersebut karena memang waktu sudah sore, yang awalnya
kami berangkat melintasi Kota Sukabumi kali ini melintasi Kota Banten.
Perjalanan
pulang dimulai, sepanjang jalan kami melihat keindahan alam yang luar biasa
indahnya, sebelah kiri ada pantai dan sebelah kanan ada pegunungan, dalam hati
berkata “nikmat mana lagi yang saya dustakan ??” , lepas dari pantai
disepanjang perjalanan hanya ada hutan, jalanan pun sangat rusak parah,
ditambah lagi turun hujan deras, dalam hati hanya bisa berdoa “ semoga selamat
sampai tujuan dan tak ada lagi halangan apapun, berjam-jam kami melintasi
jalanan tersebut tetapi seperti tidak ada ujungnya, GPS dimobil pun hilang
sinyalnya tetapi Alhamdulillah masih ada GPS dari Handphone salah satu teman.
Tidak lama saya merasakan ada sesuatu yang aneh dimobil, entah apa itu. Kami
masih tetap berjalan, sebagian jalan sedang diperbaiki dan yaaahhh … ditengah
hutan saja macet karena ada perbaikan jalan. Disitulah ketahuan yang saya
rasakan ada keanehan dimobil tadi ternyata ban mobil belakang bocor, sontak
kami berbicara “ Ya Allah .. cobaan lagi “ sambil menghela nafas panjang. Kami
turun dari mobil melihat ban tersebut dan menggantinya, sambil hujan-hujanan
mereka tetap semangat mengganti ban mobil itu sementara saya hanya bisa melihat
dari kejauhan sambil berteduh. Kira-kira setengah jam dan akhirnya kelar sudah.
Kami melanjutkan perjalanan, dalam hati saya berdoa lagi “Semoga ini kendala
perjalanan yang terakhir” . Mata sudah tidak kuat menahan rasa ngantuk,
berjam-jam kami melintasi jalan tersebut tetapi masih belum menemukan ujungnya,
saya pun tertidur dan saat mata terbuka saya melihat di kaca mobil ternyata
pemandangannya sudah berganti menjadi gedung-gedung tinggi, saya tersenyum dan
mengucapkan Alhamdulillah akhirnyaa Jakarta juga.
Dari
berangkat sampai pulang lagi ke Jakarta mobil 1 dan 2 selalu beriringan,
akhirnya di salah satu tol Jakarta kami berpisah, 1 mobil arah ke kampus (
Azzahra ) dan 1 mobil lagi arah ke Pasar Minggu, sementara saya ikut mobil yang
ke kampus. Tepat pukul 02.00 WIB kami sampai dikampus, kami bergegas keluar
dari dari mobil dan mengambil sepeda motor yang kami titipkan di area parkir
kampus, tetapi disitu ada masalah kecil lagi, yaaa kami tidak dapat pintu,
mencoba membangunkan penjaga kampus tetapi hasilnya nihil.
Kami
saling bertatap muka dan sama-sama bingung ingin melakukan apa, setelah
perbincangan yang cukup lama dan sambil menunggu pagi akhirnya mereka
mengantarkan saya pulang terlebih dahulu, disepanjang jalan saya merenung “
Kadang keinginan dan kenyataan tidak pernah sejalan, sebelum berangkat saya
berfikir perjalanan akan lancar , menyenangkan dan tidak ada kendala apapun,
namun diluar dugaan banyak terjadi kendala dan hambatan, tetapi kami
menyikapinya dengan rasa sabar, tenang dan saling bekerja sama padahal kami
kuliah hanya setiap hari sabtu, bertemu juga masih sekitar 15x pertemuan,
tetapi solidaritas mereka tinggi dan kami seperti sudah kenal lama, dari awal
berangkat sampai pulang banyak sekali kendala diperjalanan dan disitu saya
melihat tidak ada satu pun yang mengeluh atau menyalahkan salah satu teman atau
apalah, yang ada susah senang kami jalani, rasakan dan hadapi bersama-sama.”
Dengan kejadian
kemarin saya sekarang lebih bersyukur karena Allah telah mengirimkan
teman-teman seperti mereka, dan saya juga lebih bisa mengenal karakter pribadi
mereka masing-masing.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar